Jejak Rafi Rasyiq Menembus PERSIB Senior
BANDUNG – Di tengah hiruk-pikuk kedatangan nama-nama besar ke skuad PERSIB musim 2026/2027, ada satu sosok yang justru membuat Bobotoh bertanya-tanya: siapa anak muda ini?
Namanya Rafi Rasyiq. Usianya baru 17 tahun. Jerinya masih bau kencur. Tapi jangan tertipu oleh angka di akte kelahirannya — 30 November 2008. Di balik wajah mudanya, tersimpan cerita perjalanan luar biasa yang layak membuat setiap Bobotoh berdecak kagum.
Ini bukan sekadar promosi pemain muda. Ini adalah pembuktian bahwa jalan menuju tim senior Pangeran Biru memang terbuka lebar bagi siapa saja yang berani bermimpi dan bekerja keras.

Dari Tanah Minang ke Kota Kembang
Kisah Rafi dimulai dari sebuah lapangan debu di Payakumbuh, Sumatera Barat. Di usia delapan tahun, ketika anak seusianya masih asyik dengan permainan anak-anak, Rafi sudah jatuh cinta pada si kulit bundar.
Lima tahun kemudian, tekadnya membawa si anak Minang ini merantau ke Bandung. Tanpa koneksi, tanpa jaminan, ia mulai dari nol — mengasah teknik di Fatto FC, klub akar rumput yang kelak menjadi batu loncatan terpenting dalam hidupnya.
Momen Ajaib di Final Piala PERSIB U18
Tahun 2025 menjadi titik balik. Di laga final Kompetisi PSSI Kota Bandung Piala PERSIB U18, Fatto FC menghadapi Bina Pakuan dalam duel sengit yang berakhir 3-2. Dan tebak siapa yang ikut mencatatkan namanya di papan skor? Rafi Rasyiq.
Golnya di panggung final itulah yang membuka mata tim pencari bakat PERSIB. Pintu Elite Pro Academy (EPA) pun terbuka lebar.
Statistik yang Bikin Melongo
Bergabung dengan EPA bukan sekadar “numpang lewat”. Rafi membuktikan bahwa ia adalah produk pembinaan yang serius.
Catat baik-baik statistik musim keduanya di EPA bersama PERSIB:
- 🎯 23 pertandingan
- ⚽ 7 gol
Angka yang sangat produktif untuk seorang pemain depan muda. Ia bukan lagi “prospek” — ia sudah menjadi mesin gol yang nyata.
Sebelumnya, saat masih dipinjamkan ke Semen Padang di EPA Super League, Rafi sudah menunjukkan tandanya: 10 penampilan, 1 gol. Sebuah fondasi yang solid sebelum kembali ke Bandung dan meledak.

Dari Stadion Kota Bandung ke Piala Dunia U17
Talentanya tak bisa lagi disembunyikan. Panggilan Tim Nasional Indonesia U17 asuhan Nova Arianto pun datang.
Rafi tampil di Piala Asia U17 (4 laga), lalu dipercaya membela Merah Putih di panggung paling prestisius: Piala Dunia U17 2026 (3 laga). Bayangkan — dari lapangan debu di Payakumbuh, ia kini sudah merasakan atmosfer Piala Dunia.
Babak Baru: Bersaing dengan Para Senior
Kini, tantangan sesungguhnya menanti. Rafi resmi dipromosikan ke tim senior PERSIB. Ia akan berlatih, bersaing, dan mungkin suatu hari nanti bermain bersama para bintang yang usianya bisa jadi dua kali lipat darinya.
Tapi jangan khawatir, Bobotoh. Rafi tidak gentar.
“Terima kasih untuk para pelatih di Fatto FC dan PERSIB di kompetisi EPA, yang sudah berjasa membimbing saya hingga bisa sampai ke titik ini. Juga tentunya kepada teman-teman pemain dan para ofisial tim yang sudah sangat membantu saya selama ini,”
Kata-katanya sederhana, tapi sarat makna. Sebuah pengakuan tulus dari anak muda yang tahu diri — bahwa ia tidak sampai di sini sendirian.
Harapan Baru Pangeran Biru
Rafi Rasyiq adalah bukti hidup bahwa akademi PERSIB masih hidup dan menghasilkan. Di tengah gempuran pemain impor dan nama-nama mapan, kehadiran Rafi menjadi pengingat manis bahwa darah Pangeran Biru juga mengalir dari anak-anak yang dibesarkan dari tanah sendiri.
Musim 2026/2027 mungkin belum menjadi musimnya untuk bersinar. Tapi percayalah, Bobotoh — nama Rafi Rasyiq akan terus kita dengar.
Selamat datang di tim senior, Nak. Panggung besar sudah menunggumu.
Source: PERSIB BANDUNG
