Wakil Bupati Cianjur Ajak Generasi Muda Melestarikan Seni Budaya pada Pasanggiri Kreasi Jaipong
CIANJUR – Di pendopo kabupaten yang berdiri sejak 1677 itu, Sabtu sore, 25 Juli 2026, sesuatu yang langka sedang terjadi. Di tengah gempuran budaya pop global dan algoritma media sosial yang tak kenal ampun, delapan puluh lima penari muda dari Cianjur memilih untuk mengheningkan ponsel mereka, mengenakan kebaya dan sinjang, lalu menari.
Mereka bukan sekadar menari. Mereka sedang menegaskan bahwa Jaipong, salah satu mahkota seni tari Sunda yang lahir dari genius Gugum Gumbira pada dekade 1970-an, masih memiliki pewaris yang sah.
Pasanggiri Kreasi Jaipong yang digelar Pemerintah Kabupaten Cianjur dalam rangka Hari Jadi ke-349 Kabupaten Cianjur ini, lebih dari sekadar kompetisi. Ia adalah pernyataan politik budaya bahwa generasi muda Cianjur belum menyerah pada arus zaman.

Panggung Regenerasi di Taman Pancaniti
Taman Pancaniti Pendopo Bupati Cianjur berubah menjadi panggung pembuktian. Wakil Bupati Cianjur Ramzi, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Yudha Azwar, Direktur BPR Cianjur Muhammad Ansyah Ferliansyah, Tenaga Ahli Bupati Lukman Hakim, hingga Ketua Yayasan Wira Budaya Indonesia Nugie Casya Agustin Angeline Azhar, hadir menyaksikan sebuah fenomena yang jarang terjadi di era ini: anak-anak SD hingga remaja SMA berebut tampil di atas panggung resmi kabupaten, bukan untuk menjadi influencer, melainkan untuk menjadi penari Jaipong.
Lima kategori yang dipertandingkan menggambarkan peta regenerasi yang cukup sehat. Dua puluh satu penari tunggal dari SD kelas 1 hingga 3, dua puluh enam penari tunggal SD kelas 4 hingga 6, dua puluh satu penari tunggal SMP dan SMA, dua belas kelompok Rampak SD, serta lima kelompok Rampak SMP dan SMA. Total delapan puluh lima peserta, sebuah angka yang bagi pegiat budaya bisa dibaca sebagai sinyal positif.
Angka ini penting. Dalam satu dekade terakhir, banyak daerah di Jawa Barat yang mengeluh kesulitan mencari penari Jaipong muda. Regenerasi tersendat, dan yang tersisa hanyalah kelompok-kelompok senior yang terus tampil dengan wajah yang itu-itu saja. Cianjur, malam itu, seolah menjawab kerisauan tersebut.

Lebih dari Sekadar Gerak dan Musik
Jaipong bukanlah tarian biasa. Lahir dari perpaduan ketuk tilu, topeng banjet, dan pencak silat, Jaipong membawa DNA perlawanan dan kreativitas masyarakat Sunda. Gerakannya yang dinamis, iringan kendang yang menghunjam, serta kostum yang memukau, menjadikannya salah satu bentuk seni pertunjukan paling ikonik dari tanah Pasundan.
Ketika anak-anak Cianjur menari Jaipong hari ini, mereka tidak sekadar mengulang gerakan. Mereka sedang berdialog dengan sejarah, meneruskan napas budaya yang pernah hampir terputus di masa Orde Baru, ketika banyak seni tradisi dipaksa masuk ke dalam kotak “kesenian daerah” yang kaku.
Pasanggiri Kreasi Jaipong kali ini justru menekankan kata “kreasi”. Ini bukan kebetulan. Jaipong adalah seni yang hidup karena ia terus berevolusi. Tanpa kreasi, ia akan menjadi artefak museum. Dengan kreasi, ia tetap relevan.
Pesan Wabup Ramzi: Budaya Harus Berani Masuk ke Layar Kaca dan Ponsel
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Ramzi tidak berbicara dengan bahasa birokrat. Ia berbicara seperti seorang yang paham bahwa pelestarian budaya di abad ke-21 tidak bisa lagi mengandalkan cara-cara lama.
“Gunakan media sosial untuk memperlihatkan bakat dan kemampuan yang dimiliki. Mari bersama-sama memperkenalkan seni tradisional Jawa Barat, khususnya kesenian khas Kabupaten Cianjur, agar semakin dikenal masyarakat luas,” ujar Ramzi.
Pesan ini bukan sekadar himbauan. Ia adalah strategi. Di saat algoritma TikTok dan Instagram bisa membuat satu video tarian ditonton jutaan orang dalam semalam, menolak memanfaatkan platform tersebut sama saja dengan memilih untuk tidak didengar.
Ramzi juga mengapresiasi kolaborasi antara BPR Cianjur dan Yayasan Wira Budaya Indonesia yang menjadi motor penyelenggaraan acara ini. Kolaborasi antara pemerintah, lembaga keuangan daerah, dan komunitas budaya adalah model yang layak ditiru daerah lain. Pelestarian budaya tidak bisa lagi dibebankan sepenuhnya pada anggaran dinas. Ia membutuhkan ekosistem.
Cianjur dan Identitas yang Tak Boleh Tergadai
Perlu diingat, Cianjur bukanlah kabupaten biasa dalam peta budaya Jawa Barat. Dari tanah inilah lahir Tembang Cianjuran, salah satu puncak seni vocal Sunda yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Dari Cianjur pula lahir banyak sastrawan, musisi, dan budayawan yang membentuk wajah kebudayaan nasional.
Maka ketika Kabupaten Cianjur merayakan hari jadinya yang ke-349, yang dipertaruhkan bukan sekadar angka. Yang dipertaruhkan adalah identitas. Di tengah arus modernisasi yang deras, Cianjur harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar daerah penyangga Jakarta atau kota yang dilalui jalur Puncak. Ia adalah pusat kebudayaan yang masih hidup.

Pasanggiri Kreasi Jaipong ini adalah salah satu bukti. Delapan puluh lima penari muda yang turun ke panggung malam itu adalah jaminan bahwa identitas tersebut masih memiliki penjaga.
Warisan yang Tak Boleh Putus
Acara ini ditutup tanpa hiruk-pikuk yang berlebihan. Yang tersisa adalah pertanyaan besar: apakah delapan puluh lima penari ini akan terus menari ketika lampu panggung dipadamkan? Apakah mereka akan tetap mengenakan kebaya ketika tren fashion berganti? Apakah mereka akan meneruskan gerakan Jaipong kepada adik-adik mereka, sebagaimana mereka menerimanya dari para guru tari?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menentukan apakah Jaipong di Cianjur akan tetap menjadi warisan hidup, atau perlahan berubah menjadi kenangan yang hanya muncul setahun sekali dalam peringatan hari jadi kabupaten.
Satu hal yang pasti: malam itu, di Taman Pancaniti, generasi muda Cianjur telah bersuara. Mereka berkata, dengan gerak dan musik, bahwa warisan leluhur tidak akan mereka biarkan punah.
Dan itu, bagi sebuah kabupaten yang berusia 349 tahun, adalah hadiah ulang tahun yang jauh lebih berharga daripada upacara seremonial manapun.
Source: PEMKAB CIANJUR
