Lestarikan Budaya dan Syiar Islam, Abah Anton Charliyan Dampingi Sultan Sepuh XV dalam Tradisi Pajang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon
CIREBON – Suasana khidmat, sakral, dan penuh magis menyelimuti halaman dan pendopo Keraton Kasepuhan Cirebon pada Rabu, 26 Agustus 2026. Masyarakat, budayawan, serta tokoh masyarakat tumpah ruah untuk menyaksikan sebuah perhelatan akbar warisan leluhur: Upacara Tradisi Pajang Jimat Maulid Nabi Muhammad SAW.
Dalam acara yang sarat akan nilai spiritual dan historis ini, Ketua Majelis Adat Sunda (MASDA) Jawa Barat, Abah Anton Charliyan, hadir secara langsung untuk mendampingi Sultan Sepuh XV Keraton Cirebon, Pangersa YM Pangeran Arif Lukman, S.H., M.H., M.A. Kehadiran Abah Anton mewakili komitmen MASDA dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam menjaga, melestarikan, dan merawat khazanah budaya Nusantara yang berakar pada nilai-nilai keislaman ala Walisongo.
Acara Pajang Jimat sendiri merupakan puncak dari serangkaian ritual adat keraton yang ditandai dengan prosesi Jamasan (pencucian) dan Arakan (pengusungan) berbagai pusaka dan jimat keraton, seperti Kereta Singa Barong, Tombak Kyai Naga Wilaga, dan berbagai pusaka peninggalan Sunan Gunung Jati.
Menengok Sejarah Keraton Kasepuhan Cirebon
Untuk memahami bobot dari upacara ini, kita perlu menengok kembali sejarah panjang Keraton Kasepuhan. Keraton ini bukanlah sekadar bangunan tua, melainkan pusat peradaban Islam tertua di Jawa Barat. Didirikan pada abad ke-15 oleh Pangeran Cakrabuana dan kemudian dikembangkan oleh Syarif Hidayatullah atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati, keraton ini awalnya merupakan pusat Kesultanan Cirebon yang menyatukan pengaruh Pajajaran (Hindu-Sunda) dan Islam.
Pada pertengahan abad ke-17 (sekitar tahun 1677), Kesultanan Cirebon mengalami perpecahan menjadi beberapa pecahan keraton, yaitu Kasepuhan, Kanoman, Kacirebonan, dan Kaprabonan. Keraton Kasepuhan diakui sebagai keraton tertua dan menjadi garis keturunan utama (primogenitur) yang memegang teguh tradisi dan pusaka asli kesultanan. Arsitektur keraton ini pun menjadi saksi bisu akulturasi budaya yang luar biasa, memadukan unsur Hindu, Islam, Tiongkok, dan Eropa, yang mencerminkan posisi Cirebon sebagai kota pelabuhan internasional pada masa lalu.
Di bawah kepemimpinan Pangersa YM Pangeran Arif Lukman sebagai Sultan Sepuh XV, Keraton Kasepuhan terus berupaya membuka diri, tidak hanya sebagai simbol sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi budaya dan spiritual bagi masyarakat modern.
Makna Maulid Nabi dan Tradisi Pajang Jimat
Secara umum, Maulid Nabi Muhammad SAW adalah peringatan hari lahirnya Nabi Agung Muhammad SAW yang jatuh pada bulan Rabiul Awal dalam kalender Hijriah. Namun, di Cirebon dan tanah Jawa pada umumnya, peringatan Maulid tidak hanya dirayakan dengan pengajian akbar, melainkan juga melalui pendekatan kultural yang dikenal sebagai Pajang Jimat.
Tradisi Pajang Jimat memiliki filosofi yang sangat dalam. Kata “Pajang” berarti memamerkan atau menampakkan, sementara “Jimat” merujuk pada benda-benda pusaka yang dianggap memiliki nilai spiritual dan historis tinggi.
Dalam konteks menyambut dan memperingati Maulid Nabi, tradisi ini dimaknai sebagai bentuk tadzkar (mengingat) dan menyucikan diri. Sama seperti pusaka keraton yang dicuci (dijamas) agar kembali bersih dan berkilau, umat Islam diajak untuk “mencuci” dan menyucikan hati serta jiwa mereka agar layak meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, Pajang Jimat juga merupakan wujud syukur dan penghormatan kepada para leluhur, khususnya Sunan Gunung Jati dan para Walisongo, yang telah menyebarkan agama Islam di tanah Jawa bukan dengan peperangan, melainkan melalui jalan damai, seni, dan akulturasi budaya. Benda-benda pusaka yang dipajang adalah simbol dari perjuangan, dakwah, dan kedaulatan Islam di Nusantara.
Sinergi Adat dan Syiar
Kehadiran Abah Anton Charliyan di tengah-tengah prosesi ini memberikan pesan yang kuat mengenai pentingnya sinergi antara lembaga adat, pemerintah, dan institusi kesultanan dalam merawat warisan leluhur. Kolaborasi ini menjadi kunci agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam setiap pusaka dan tradisi keraton tetap lestari dan terus diwariskan kepada generasi penerus.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan pembagian berkat (sembahan) kepada ribuan masyarakat yang hadir, menyisakan kesan mendalam tentang bagaimana sebuah tradisi kerajaan mampu menyatukan masyarakat dalam balutan cinta kepada Nabi Muhammad SAW dan penghormatan kepada leluhur. Melalui perhelatan ini, Keraton Kasepuhan Cirebon kembali menegaskan posisinya bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai mercusuar budaya dan spiritual yang terus menerangi Nusantara hingga di abad ke-21 ini.

