Hamra Hehanussa Dipinjamkan ke Garudayaksa: Bukan Perpisahan, Tapi Persiapan untuk Pulang Lebih Kuat
Bandung – Al Hamra Hehanussa belum akan mengenakan jersey biru PERSIB di kompetisi resmi musim ini. Tapi bukan berarti PERSIB melepasnya begitu saja.
Bek serbabisa yang nyaman bermain sebagai bek tengah maupun bek kiri itu akan menghabiskan musim 2026/2027 bersama klub promosi Garudayaksa melalui skema peminjaman. Sebuah keputusan yang, bagi PERSIB, bukan soal “tidak butuh”—melainkan soal memastikan Hamra tidak duduk di bangku cadangan terlalu lama.
Kesempatan Kedua untuk Terus Tumbuh
Ini bukan pertama kalinya Hamra merasakan atmosfer ruang ganti klub lain. Pada putaran kedua musim 2025/26, pemain kelahiran Tangerang, 1 Juli 1999, itu sudah lebih dulu menjalani masa peminjaman bersama Persik Kediri.

Kali ini, logikanya serupa tapi konteksnya berbeda. PERSIB melihat Hamra butuh menit bermain yang lebih konsisten—bukan sekadar masuk daftar susunan pemain, tapi benar-benar bermain, menghadapi tekanan pertandingan, dan mengasah instingnya di level kompetitif secara rutin.
Pemain yang Tak Pernah Setengah Hati
Sejak bergabung dengan PERSIB di awal musim 2025/26, Hamra belum mendapat kesempatan tampil di laga resmi liga. Tapi mereka yang mengikuti sesi latihan Pangeran Biru tahu: pemain ini tidak pernah datang setengah hati.
Etos kerjanya di lapangan latihan mendapat perhatian konsisten dari tim pelatih. Kualitas teknisnya, pemahamannya terhadap permainan, dan kedisiplinannya membuat Hamra tetap menjadi bagian dari persaingan internal skuad.
Buktinya bukan nol. Di Piala Presiden 2026, Hamra mendapat panggung. Ia tampil dalam lima pertandingan dan ikut mengawal perjalanan PERSIB hingga finis sebagai runner-up turnamen tersebut.
“Bukan Berarti Kami Kehilangan Kepercayaan”
Deputy CEO PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhitia Putra Herawan, ingin memastikan satu hal: keputusan ini bukan sinyal bahwa PERSIB meragukan Hamra.

“Peminjaman Hamra bukan karena kami kehilangan kepercayaan terhadap kemampuannya,” tegas Adhit. “Justru kami ingin memastikan dia mendapatkan ruang untuk terus berkembang dan memperoleh menit bermain yang sesuai dengan kebutuhannya sebagai pemain.”
Pengalaman di Persik musim lalu, menurut Adhit, menjadi salah satu pertimbangan positif. Hamra terbukti mampu beradaptasi dan menyerap pelajaran dari lingkungan baru.
“Seperti ketika dipinjamkan ke Persik, kami berharap kesempatan bermain bersama Garudayaksa memberikan pengalaman berharga. Yang terpenting adalah dia tetap bermain, menjaga ritme kompetitif, dan terus meningkatkan kualitasnya,” lanjutnya.
Realitas di Lini Belakang PERSIB
Keputusan ini juga tak bisa dilepaskan dari komposisi skuad PERSIB musim ini. Di posisi bek tengah, Pangeran Biru sudah punya Patricio Matricardi, Julio Cesar, plus dua rekrutan anyar: Gabriel Mutombo dari Prancis dan Danijel Loncar dari Kroasia. Di sisi kiri, ada Eliano Reijnders dan Ikhwan Ali Tanamal.
Persaingan ketat. Dan dalam situasi seperti ini, PERSIB memilih pendekatan yang berorientasi pada pemain: daripada Hamra menjadi opsi keenam atau ketujuh yang jarang menyentuh rumput pertandingan, lebih baik ia menjadi pemain inti di tempat lain—dan pulang dengan pengalaman yang lebih matang.
Bukan Akhir, Melainkan Jeda

PERSIB tidak melihat peminjaman sebagai pelepasan. Klub memandang perjalanan setiap pemain sebagai proses jangka panjang—bukan sekadar kebutuhan satu musim.
Harapannya sederhana tapi jelas: Hamra bermain reguler, menghadapi situasi pertandingan yang beragam, beradaptasi dengan tuntutan kompetisi baru, lalu kembali ke Bandung dengan kepercayaan diri dan kesiapan yang jauh lebih baik.
PERSIB mendoakan kelancaran perjalanan Hamra bersama Garudayaksa. Dan bagi para Bobotoh yang mengikuti kariernya sejak awal, ini bukan perpisahan.
Ini jeda. Persiapan. Dan janji bahwa ketika waktunya tiba, Hamra akan pulang dengan versi terbaik dari dirinya.
Source: PERSIB BANDUNG