Antusiasme Masyarakat Indonesia terhadap Piala Dunia 2026 dari Tahun ke Tahun
SATUBIRU.COM – Bagi masyarakat Indonesia, Piala Dunia bukan sekadar turnamen sepak bola empat tahunan. Ia telah menjadi bagian dari budaya populer yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang melalui kecintaan terhadap sepak bola. Namun, cara masyarakat tanah air menikmati turnamen megah ini tidak terbentuk begitu saja. Dari era sunyi di bawah bayang-bayang kolonial hingga ledakan industri digital, antusiasme masyarakat Indonesia terhadap Piala Dunia terus berevolusi secara unik dari zaman ke zaman.
Pada edisi perdana Piala Dunia tahun 1930, informasi mengenai turnamen ini sangat langka di tanah air. Masyarakat bumiputera saat itu hanya bisa membaca sepintas berita dari koran-koran berbahasa Belanda yang baru terbit berminggu-minggu setelah pertandingan selesai.

Meski informasi mengenai turnamen masih sangat terbatas di Indonesia, penyelenggaraan Piala Dunia sendiri mulai berkembang dari sisi format dan jumlah peserta. Di edisi pertamanya, Piala Dunia diikuti sebanyak 13 tim dan dibagi ke dalam empat grup. Satu grup diisi empat tim, dan sisanya masing-masing diisi tiga tim. Setiap juara grup mendapatkan tiket ke babak semifinal yang menerapkan sistem gugur.
Piala Dunia 1934 dan 1938 menerapkan format yang sama. Dengan jumlah kontestan sebanyak 16 tim, diterapkan sistem gugur. Saat itu belum ada skema adu penalti. Jika pertandingan tetap berakhir imbang setelah babak tambahan, kedua tim harus menjalani pertandingan ulang pada hari berikutnya.
Titik balik sejarah sepak bola Indonesia terjadi pada Piala Dunia 1938 di Prancis. Saat itu, Hindia Belanda tercatat sebagai tim Asia pertama yang tampil di putaran final Piala Dunia. Namun, keikutsertaan tersebut berlangsung dalam situasi kolonial. Tim yang berangkat menggunakan nama Hindia Belanda (Dutch East Indies) dan berada di bawah federasi sepak bola bentukan pemerintah kolonial Belanda, Nederlandsch-Indische Voetbal Unie (NIVU).
Keberangkatan tim tersebut memicu ketegangan dengan Persatuan Sepak Raga Seluruh Indonesia (PSSI). PSSI yang dipimpin Soeratin Sosrosoegondo menilai penentuan wakil ke Piala Dunia seharusnya dilakukan melalui pertandingan antara tim PSSI dan NIVU. Sebagai bentuk protes, PSSI tidak mengirimkan pemainnya untuk memperkuat skuad Hindia Belanda. Meski demikian, tim tersebut tetap berangkat ke Prancis dan menjadi bagian dari sejarah awal sepak bola Asia di Piala Dunia.
Keikutsertaan Hindia Belanda pada 1938 menjadi catatan penting dalam sejarah sepak bola Indonesia. Namun, pecahnya Perang Dunia II dan perubahan politik setelah kemerdekaan membuat perkembangan sepak bola nasional memasuki babak yang berbeda. Setelah kemerdekaan, gairah masyarakat Indonesia terhadap Piala Dunia mulai berkembang melalui media yang tersedia saat itu. Karena akses televisi masih sangat terbatas, radio menjadi sumber utama masyarakat untuk mengikuti perkembangan dan jalannya pertandingan Piala Dunia. Masyarakat mengandalkan suara komentator untuk membayangkan atmosfer pertandingan dari berbagai penjuru dunia.

Perkembangan teknologi penyiaran kemudian mengubah cara masyarakat menikmati Piala Dunia. Piala Dunia 1966 tercatat sebagai ajang Piala Dunia pertama yang disiarkan secara langsung lewat televisi. Namun, empat tahun kemudian, tepatnya di Meksiko 1970, teknologi siaran televisi ini memasuki babak baru. Piala Dunia 1970 menjadi penyelenggaraan pertama yang disiarkan lewat televisi dengan format berwarna. Di Indonesia, satu-satunya stasiun televisi saat itu adalah TVRI, yang menyiarkan gelaran Piala Dunia pada dekade 1970-an hingga 1980-an.
Memasuki tahun 1990-an, lanskap penyiaran Indonesia berubah total. Kehadiran TVRI yang jangkauannya meluas, ditopang oleh menjamurnya stasiun televisi swasta, membuat siaran langsung Piala Dunia bisa dinikmati secara gratis hingga ke pelosok desa. Sepak bola dunia kini tidak lagi sekadar suara, melainkan visual nyata yang bergerak di layar kaca.
Memasuki era internet dan digitalisasi media, perubahan tersebut berlangsung semakin cepat. Era 2000-an hingga kini, Piala Dunia di Indonesia telah sepenuhnya bergeser dari sekadar hiburan rakyat menjadi bagian dari gaya hidup komersial dan industri global yang masif. Akses informasi yang instan membuat suporter lokal memiliki keterikatan emosional yang sangat dalam terhadap tim-tim Eropa atau Amerika Latin.

Fenomena ini melahirkan apa yang oleh sejumlah sosiolog disebut sebagai “nasionalisme pinjaman”, yaitu ketika seseorang membangun keterikatan emosional yang kuat terhadap identitas dan simbol negara lain melalui olahraga. Suporter lokal mendukung negara asing secara sangat fanatik, lengkap dengan atribut jersi orisinal, syal, hingga bendera negara tersebut. Seiring dengan regulasi hak siar yang semakin ketat, budaya nobar juga mengalami transformasi. Tradisi menonton bersama di pos ronda atau ruang-ruang komunitas perlahan bergeser ke kafe, restoran, dan ruang publik yang dikelola secara profesional oleh komunitas penggemar.
Sejarah panjang ini membuktikan bahwa meski Tim Nasional Indonesia masih harus berjuang keras untuk kembali ke putaran final, masyarakat Indonesia tidak pernah absen untuk menjadi bagian dari denyut nadi Piala Dunia. Perubahan cara masyarakat mengikuti Piala Dunia dari masa ke masa menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga ruang yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat dalam pengalaman dan antusiasme yang sama.
