Piala Dunia 2026 dan Peluang Besar Industri Sepak Bola Indonesia
SATUBIRU.COM – Sepak bola merupakan salah satu olahraga paling populer di dunia, dengan daya tarik yang melampaui batas geografis, budaya, maupun bahasa. Popularitasnya tidak hanya terlihat dari jumlah penggemar, tetapi juga dari besarnya partisipasi penonton dalam berbagai ajang internasional.
Dalam sejarah Piala Dunia FIFA, total penonton yang hadir langsung di stadion dari 22 edisi turnamen (1930–2022) mencapai sekitar 36,6 juta orang. Bahkan, rekor kehadiran penonton dalam satu edisi turnamen tercatat pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat dengan total 3.587.538 penonton.
Besarnya popularitas tersebut kemudian membuat potensi nilai ekonomi yang dihasilkan menjadi besar. Berdasarkan laporan Deloitte (2021), pangsa pasar sepak bola Eropa pada tahun 2020 mencapai nilai sekitar EUR 25,2 miliar atau setara dengan Rp393,9 triliun. Pendapatan dalam industri ini tidak hanya bergantung pada pertandingan semata, tetapi berasal dari tiga sumber utama, yaitu pendapatan hari pertandingan (matchday), hak siar (broadcast), serta sektor komersial seperti sponsor dan merchandise.
Di Indonesia, potensi tersebut juga sangat besar jika dilihat dari jumlah penggemarnya. Berdasarkan laporan Nielsen Sports World Football Report (2022), lebih dari 60% masyarakat Indonesia menyatakan memiliki ketertarikan terhadap sepak bola. Dengan jumlah penduduk yang melebihi 270 juta jiwa, angka tersebut berarti terdapat sekitar 160 hingga 190 juta orang yang menjadi penggemar sepak bola. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar audiens sepak bola terbesar di dunia, sehingga memiliki daya tarik yang tinggi bagi industri olahraga global maupun investor.

Selain itu, perkembangan sepak bola Indonesia juga mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, terutama melalui kompetisi domestik seperti Liga 1 Indonesia. Salah satu faktor yang turut berkontribusi adalah kebijakan naturalisasi pemain, yang membuat para pemain keturunan atau pemain asing berkualitas untuk memperkuat tim nasional. Kehadiran pemain-pemain ini membawa pengalaman bermain di liga yang lebih kompetitif, sehingga meningkatkan kualitas permainan serta memberikan dampak positif terhadap perkembangan ekosistem sepak bola nasional.
Sejalan dengan hal tersebut, kajian dari BRI Research Institute menunjukkan bahwa Liga 1 musim 2024/2025 mampu memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Kompetisi ini diperkirakan menciptakan perputaran ekonomi hingga sekitar Rp 10,42 triliun, dengan nilai tambah ekonomi mencapai Rp 5,93 triliun, serta membuka sekitar 45.000 lapangan kerja. Angka ini menunjukkan bahwa industri sepak bola di Indonesia tidak lagi sekadar hiburan, tetapi telah menjadi sektor ekonomi yang memberikan dampak nyata.
Meski demikian, jika dibandingkan dengan industri sepak bola di Eropa yang nilainya mencapai ratusan triliun rupiah, skala industri di Indonesia masih memiliki kesenjangan yang cukup besar.
Sepak bola di Indonesia masih memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi industri yang lebih matang. Dengan dukungan pasar yang sangat luas, peningkatan kualitas kompetisi, serta pengelolaan yang profesional, sepak bola dapat menjadi salah satu sektor ekonomi strategis yang tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.

