Keren, Bobotoh! Dukungan untuk Anak-anak Penyintas Kanker Tembus Rp117,4 Juta
Bandung, 8 Agustus 2026 – Ada satu momen di lantai 1 Graha PERSIB sore itu yang membuat semua orang berhenti sejenak. Bukan gol. Bukan transfer pemain. Bukan taktik pelatih. Melainkan angka yang muncul di layar: Rp100.000.000. Dalam dua jam. Dari ribuan orang yang bahkan mungkin belum pernah saling bertatap muka.
“Keren, Bobotoh!” teriak Riphan Pradipta spontan. Suaranya pecah sedikit—bukan karena volume, tapi karena haru yang tiba-tiba memenuhi ruangan.
Di sampingnya, Ale Aulia baru saja membacakan angka itu. Podcast PERSIB yang tadinya riuh oleh obrolan soal taktik dan transfer, mendadak hening sepersekian detik. Lalu riuh kembali—kali ini oleh tepuk tangan, tawa lega, dan mungkin beberapa pasang mata yang sedikit berkaca.

Bukan Sekadar Angka di Layar
Seratus juta rupiah bisa berarti banyak hal. Tapi sore itu, setiap rupiah yang masuk membawa cerita kecil: seorang ayah di Cibiru yang menyisihkan uang jajannya, seorang mahasiswa di Jatinangor yang mentransfer dari sisa beasiswanya, seorang ibu di Cimahi yang mengklik “donasi” sambil memangku anaknya yang tertidur.
Uang itu bukan untuk trofi. Bukan untuk jersey baru. Bukan untuk renovasi stadion.
Uang itu untuk anak-anak kecil yang sedang belajar mengeja kata “kemoterapi” sebelum mereka lancar mengeja nama mereka sendiri. Untuk anak-anak yang menggunduli kepala mereka bukan karena gaya, tapi karena rambut mereka rontok satu per satu. Untuk anak-anak yang bermain bukan di lapangan hijau, melainkan di ranjang rumah sakit Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI).
Dan 6.209 orang memutuskan bahwa Sabtu sore mereka lebih baik dihabiskan untuk memberi daripada sekadar menonton.
Dari Pengumuman Bek Kroasia ke Panggung Kemanusiaan
Awalnya, ini memang podcast pengenalan pemain. Danijel Loncar, bek asal Kroasia, datang untuk diperkenalkan kepada Bobotoh jelang musim 2026/2027. Riphan Pradipta, jurnalis Simamaung Anki Syaban, dan komika Anyun Cadel duduk bersama, membicarakan formasi, adaptasi, dan harapan di musim baru.
Tapi PERSIB sengaja merancang sore itu bukan sebagai konferensi pers biasa.
Di balik pengumuman transfer, ada ajakan yang lebih sunyi: “Bagaimana kalau hari ini, energi yang biasa kalian pakai untuk berteriak di tribun, kita arahkan untuk anak-anak yang sedang berjuang dalam diam?”

Hasilnya? Ketika siaran ditutup, angka donasi sudah menyentuh Rp106.346.743. Dan karena antusiasme tak berhenti, kanal donasi tetap dibuka hingga Minggu pukul 17.00 WIB.
Angka final: Rp117.468.981. Dari 6.209 donatur.
Sepak Bola yang Lebih Besar dari 90 Menit
Yang membuat gerakan ini terasa berbeda bukan sekadar nominalnya. Ini adalah bagian dari Positive Movement: From Football to Positive Impact—sebuah janji bahwa setiap kali PERSIB memperkenalkan pemain baru, ada satu isu kemanusiaan yang ikut diangkat ke permukaan.
Sepanjang bursa transfer musim ini, Bobotoh sudah diajak melakukan hal-hal yang mungkin tak pernah mereka bayangkan terkait sepak bola: kampanye keselamatan berkendara, aksi donor darah, mewarnai bersama ayah, bersih-bersih lingkungan, hingga pelestarian budaya lokal.
Sepak bola, dalam narasi ini, bukan lagi sekadar 22 orang mengejar bola. Ia menjadi pintu masuk—alasan bagi ribuan orang untuk berkumpul, lalu dari kerumunan itu, melakukan sesuatu yang melampaui diri sendiri.
“Mungkin Sederhana. Tapi Sangat Berarti.”
Komisaris PT PERSIB Bandung Bermartabat, Kuswara S. Taryono, tidak berbicara dengan bahasa korporat sore itu. Suaranya pelan, seperti orang yang benar-benar bersyukur.
“Terima kasih, Bobotoh, atas kepedulian kepada adik-adik kita yang tengah berjuang melawan kanker. Semoga donasi ini menjadi dukungan bagi mereka dan keluarganya,” ujarnya.
Lalu ia menambahkan satu kalimat yang terasa jujur, tanpa polesan: “Apa yang kita lakukan bersama-sama mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Tapi bisa sangat berarti bagi mereka yang menerimanya.”
Sementara itu, VP Commercial PT PERSIB Bandung Bermartabat, Budi Ulia, mengingatkan satu hal yang sering kita lupakan: bahwa sepak bola punya kekuatan yang belum sepenuhnya kita gunakan.
“Sepak bola tidak berhenti pada pertandingan, kemenangan, atau trofi,” katanya. “Ketika komunitas di dalamnya memiliki kepedulian, energi dari sepak bola dapat menjadi kekuatan untuk menghadirkan dampak positif bagi kehidupan masyarakat.”
Ia juga menekankan bahwa setiap pemain baru yang datang ke PERSIB bukan hanya membawa skill di lapangan. Mereka membawa cerita, karakter, dan kesempatan untuk menggerakkan orang.
“PERSIB membuka ruangnya. Para pemain menjadi bagian dari pesannya. Dan Bobotoh yang kemudian menghidupkan gerakan tersebut,” ujar Budi.

Yang Tersisa Setelah Layar Padam
Siaran berakhir. Podcast ditutup. Graha PERSIB kembali sepi.
Tapi di suatu tempat—di sebuah ruang perawatan YKAKI—seorang anak mungkin belum tahu bahwa 6.209 orang di luar sana, yang sebagian besar tak pernah ia temui, baru saja memutuskan bahwa perjuangannya tidak sendirian.
Bahwa di Sabtu sore yang biasa, ribuan orang memilih untuk tidak hanya menonton. Mereka memilih untuk hadir.
Dan mungkin itulah yang paling indah dari sepak bola: bukan gol di menit 93, bukan trofi yang diangkat tinggi-tinggi, melainkan momen ketika sebuah komunitas memutuskan bahwa cinta mereka pada satu klub bisa menjelma menjadi cinta yang lebih besar—untuk mereka yang bahkan tidak punya kaitan apa-apa dengan sepak bola, selain kenyataan bahwa mereka perlu dibantu.
Positive Movement tidak berhenti di sini. PERSIB akan terus membuka ruang kolaborasi bersama Bobotoh, komunitas, mitra, dan berbagai elemen masyarakat. Karena pada akhirnya:
Dari sepak bola, lahir energi. Dari energi, tumbuh kepedulian. Dan dari kepedulian, lahir sesuatu yang jauh lebih besar dari kemenangan mana pun: harapan.
Source: PERSIB BANDUNG