Sunda Wiwitan, Sampurasun baraya sadayana.
Pada kesempatan kali ini izinkan tim Satu Biru mencoba berbagi informasi mengenai sejarah Sunda. Pada artikel kali ini kita akan mencoba membahas tentang asal muasal sunda wiwitan. Dan untuk kesempatan kali ini pun, kita mencoba menghimpun informasi dari beberapa sumber. Baik itu paltform sosial media dan salah satu berkas yang kita dapatkan dari Universitas Islam Indonesia.
Selain informasi yang kita dapat dari platform sosial media dan berkas tersebut, kami juga mengutarakan hasil analisis kami dari tim Satu Biru tentang spriritual sunda wiwitan dan agama. Namun kembali, artikel ini terbuka untuk siapapun yang ingin mengkritik dan berkomentar jika memang ada ketidak sesuaian atau membuat gaduh. Kami siap untuk secara cepat memproses artikel ini baik di hide ataupun di hapus. Namun jika kajian kita tidak membuat gaduh, izinkan artikel ini untuk tetap di tayangkan.
Dalam informasi yang ktia baca dan kita dapatkan terdapat satu jargon yang cukup membuat tim Satu Biru terkesan adalah “Islam itu Sunda, Sunda itu Islam”. Dimana jargon tersebut dicetuskan oleh H. Endang Saifuddin Anshari, putra Isa Anshari (tokoh penting Masyumi). Dan kenapa jargon tersebut bisa muncul ?
Jakob Sumardjo dalam Paradoks Cerita-Cerita Si Kabayan (2014) menerangkan hal itu dilandasi karakter masyarakat Sunda yang berbasis huma atau ladang. Dibanding kerjaan – kerjaan Jawa berbasis masyarakat sawah yang menetap, kebudayaan istana di kerajaan – kerajaan Sunda hanya berkembang di lingkungan terbatas masyarakat negara. Masyarakat negara adalah masyarakat Sunda di wilayah kekuasaan kerajaan, masing terdapat kampung – kampung Sunda yang berpindah – pindah akibat hidup dari berladang.
Hidup yang berpindah – pindah ini, membuat ikatan istana dan rakyat di luar wilayah kekuasaan sangat longgar. Ini membuat ulama leluasa keluar masuk kampung – kampung Sunda. Hal ini tercermin dalam mitos – mitos rakyat terhadap penyebar Islam seperti Raden Kian Santang. “Mereka percaya bahwa agam Islam itu sudah ada sejak awal ada di Sunda. Sunda itu Islam”.
Jika kita perhatikan agama mayoritas untuk etnis Sunda saat ini, paparan Jakob Sumardjo tersebut bisa jadi benar. Namun kenyataannya, beberapa daerah di Jawa Barat dengan mayoritas etnis Sunda, hingga saat ini masih ada sistem kepercayaan lain di luar Islam atau agama – agama lain yang diakui oleh pemerintah. Salah satunya, dan mungkin yang paling dikenal adalah Sunda Wiwitan.
Edi S. Ekadjati dalam Kebudayaan Sunda: Suatu Pendekatan Sejarah (1995), dengan mengambil contohnya masyrakat kanekes di Banten, mencoba menjelaskan tentang Sunda Wiwitan.
“Wiwitan berarti mula, pertama, asal, pokok, jati. Dengan kata lain, agama yang dianut oleh orang Kanekes adalah agama Sunda asli. Menurut Carita Parahyangan adalah agama JatiSunda.”
Ia menambahkan, jika isi agama Sunda Wiwitan dideskripsikan, tampak keyakinan kepada kekuasaan tertinggi pada Sang Hyang Keresa (Yang Maha Kuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki). Disebut juga Batara Tunggal (Tuhan Yang Maha Esa), Batara Jagat (Penguasa Alam) dan Batara Seda Niskala (Yang Gaib), yang bersemayam di Buana Nyungcung. Semua dewa dalam konsep agama Hindu (Brahma, Wisnu, Syiwa, Indra, Yama, dan Lain Lain) tunduk kepada Batara Seda Niskala (Tuhan Yang Maha Esa).
……. Kita akan lanjutkan di Edisi Sunda Wiwitan #2 …….






